Senin, November 20, 2017
Text Size

Search

Berita Teknologi

Twitter Bakal Sediakan Layanan Berbayar?

KOMPAS.com - Setelah selama ini hanya meyediakan layanan gratis yang didukung iklan, Twitter...

6 Langkah Mudah Untuk Mendeteksi Website Penipuan

Suara.com - Internet ibarat pedang bermata dua. Jika tak hati-hati menggunakannya, Anda bisa...

Domain Anything.id akan segera hadir di tahun 2014

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) bersama para pemangku kepentingan di bisnis nama...

Yahoo kembali bangkit

Situs web Yahoo unggul 3 bulan berturut-turut sebagai situs web yang paling banyak dikunjungi di...

  • Twitter Bakal Sediakan Layanan Berbayar?

    Kamis, 30 Maret 2017 19:49
  • 6 Langkah Mudah Untuk Mendeteksi Website Penipuan

    Jumat, 29 Juli 2016 10:22
  • Kapan Mobil Bisa Jalan Sendiri Dijual di Indonesia?

    Jumat, 29 Juli 2016 10:17
  • Domain Anything.id akan segera hadir di tahun 2014

    Jumat, 25 Oktober 2013 15:37
  • Yahoo kembali bangkit

    Jumat, 25 Oktober 2013 15:34
News Berita Teknologi Google Earth Engine akan mendeteksi kerusakan hutan
SocialTwist Tell-a-Friend

Media Partner News

OkeZone.Com

Ads - World Friend

Google Earth Engine akan mendeteksi kerusakan hutan

Penilaian Pengunjung: / 1
KurangTerbaik 

Google memulai langkah baru dalam program pemetaan global mereka, kali ini Google tidak hanya menyediakan peta lokasi di seluruh dunia tetapi juga deteksi perubahan lingkungan global. Adalah Google Earth Engine merupakan teknologi terbaru yang menyediakan data dan citra satelit suatu lokasi dari 25 tahun yang lalu hingga sekarang. Citra satelit ini akan membantu para peneliti dan ilmuan untuk menganalisis, memonitor dan mengukur perubahan lingkungan bumi dalam skala global. Data ini termasuk citra satelit Landsat dan citra satelit MODIS. Platform teknologi yang digunakan memanfaatkan Google Cloud. Google juga menyediakan tool analisis untuk mempermudah kinerja peneliti dan ilmuan.

 

Sebelumnya Google pernah meluncurkan prototipenya saat COP 15 di Copenhagen tahun lalu. Pencipta Google Earth Outreach, Rebecca Moore, mengatakan salah satu alasan Google Earth Engine diciptakan adalah keluhan para ilmuan Brazil yang kesulitan dalam mememonitor hutan Amazon dengan efektif. Hal ini dikarenakan data satelit Amazon luar biasa besarnya—sekitar miliaran gigabyte—sehingga sulit untuk melakukan analisis dalam waktu singkat. Untuk mengalisis suatu data satelit diperlukan citra satelit dengan skala yang lebih kecil karena hanya dijalankan dengan satu alogaritma pendeteksi perubahan sederhana dan hal tersebut bisa memakan waktu hingga beberapa minggu bahkan bulan.

 

“Keadaan ini sangat menarik perhatian kami, kita sudah mempunyai sitra satelit, tetapi hanya bisa dilihat dan mereka (para ilmuan-red) meminta kami agar citra satelit itu dapat diakses untuk dianalisis, jadi mereka tidak hanya dapat melihat penggundulan hutan tetapi juga bisa mengitungnya,” kata Moore. “Kami telah menemukan alogaritma yang mempersingkat waktu analisis dari beberapa bulan menjadi beberapa detik saja,” tambar Moore lagi.

 

Selain membantu menganalisis penggundulan hutan, Google Earth Engine juga dapat memberikan alarm peringatan jika ada aktivitas penggundulan hutan akibat pembalakan hutan liar. Hal ini dimungkinkan karena analisis Google Earth Engine diperbaharui setiap hari sehingga mencegah terjadi penebangan hutan ilegal meluas karena akan segera diketahui. Google Earth Engine juga dapat digunakan untuk hal lain.

 

“Google Earth Engine tidak hanya dibatasi pada hutan dan permukaan tanah. Kami juga mencari air,” tambah Moore. Hal ini akan berguna bagi penduduk yang tinggal di daerah yang kekurangan pasokan air bersih seperti Afrika utara.  Selama dua tahun ke depan, Google melalui unit filantropinya, Google.org akan memberikan layanan 10 juta jam kerja CPU untuk negara-negara berkembang untuk dapat mengakses data Google Earth Engine. Ini merupakan usaha untuk menyukseskan amanat Protokol Kyoto.

 

Bagaimana dengan Indoensia? Sebagai salah satu negara yang mempunyai hutan hujan alami terbesar di dunia setelah Brazil dan Republik Dominika, sudah seharusnya Indonesia berpartisipasi aktif dalam memelihara aset paru-paru dunia. Selama ini Indonesia kesulitan dalam mengukur keberhasilan perlindungan hutan karena ada kendala seperti penyakit tanaman, korupsi, pembalakan liar ilegal. Kesemua kendala itu sulit diawasi langsung oleh peneliti ataupun ilmuan Indonesia di lapangan.

 

Kesulitan lain adalah belum ada kesepakatan global dalam melindungi hutan, sehingga tiap negara mempunyai ukuran yang berbeda. Belum lagi masalah transparansi internasional dalam pengurangan emisi dari penggundulan dan degadrasi hutan serta kesenjangan perolehan informasi. Hal ini memperlambat usaha pencapaian target pengurangan emisi global.

 

Dengan adanya Google Earth Engine, Indonesia berserta negara-negara berkembang lainnya diharapkan memiliki kesetaraan informasi. Seperti yang Moore katakan, “Apa yang menarik dari lingkungan cloud computing adalah baik negara berkembang maupun negara maju mempunyai tool dan data yang sama untuk mengalisis lingkungan.”. Mudah-mudahan Indonesia bisa memanfaatkan data Google Earth Engine untuk mencegah lebih banyak lagi penggundulan hutan dengan mengawasi lingkungan secara lebih cepat. Kita tunggu saja.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Cara membeli laptop yang tepat
22/05/2011 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Lebih baik untuk tahu lebih banyak tentang komputer ketika membeli satu latop atau untuk banyak, membeli laptop adalah investasi besar meskipun sekarang bahwa perangkat ini menjadi lebih murah tidak [ ... ]


Tahun Depan Haji Lebih Nyaman
02/12/2009 |
article thumbnail

  Warga yang belum memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji sampai kini tidak perlu kecewa, karena pemerintah Arab Saudi terus membangun prasarana dan melengkapi fasilitas peribadata [ ... ]