Sabtu, November 25, 2017
Text Size

Search

Berita Nasional

Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

Juru Bicara Presiden Joko Widodo, Johan Budi Sapto Pribowo menegaskan, Presiden Jokowi sangat...

Sri Mulyani Bisa Bawa Ekonomi RI Jadi yang Terbaik

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro berharap banyak...

Kronologi Eksekusi Mati Tahap III

Eksekusi mati tahap tiga sudah dilaksanakan di lapangan tembak Tunggal Panaluan, Nusakambangan,...

Kisruh SMS SBY dalam Perseteruan Demokrat-PPI

Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono meminta kadernya untuk mewaspadai manuver organisasi...

Century Masuk Babak Baru

Ketua dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad (tengah), Bambang...

  • Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

    Kamis, 30 Maret 2017 19:45
  • Sri Mulyani Bisa Bawa Ekonomi RI Jadi yang Terbaik

    Jumat, 29 Juli 2016 10:20
  • Kronologi Eksekusi Mati Tahap III

    Jumat, 29 Juli 2016 10:01
  • Kisruh SMS SBY dalam Perseteruan Demokrat-PPI

    Jumat, 25 Oktober 2013 15:28
  • Century Masuk Babak Baru

    Selasa, 20 November 2012 09:17
News Berita Nasional Lulus sarjana di wajibkan publikasi karya ilmiah
SocialTwist Tell-a-Friend

Media Partner News

OkeZone.Com

Ads - World Friend

Lulus sarjana di wajibkan publikasi karya ilmiah

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Perguruan tinggi swasta dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia menolak kewajiban memublikasikan karya ilmiah mahasiswa di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan, tetapi mendorong lulusan program pascasarjana dan doktor untuk menulis karya ilmiah. Jumlah karya ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi masih sangat terbatas. Namun, peningkatan publikasi ilmiah di Indonesia tidak mesti harus mengaitkan dengan kelulusan. arya ilmiah itu diharapkan dimuat pada jurnal skala nasional ataupun internasional. ”Perguruan tinggi swasta (PTS) memahami niat dan tujuan baik Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang menginginkan kualitas lulusan sarjana, magister, dan doktor meningkat, terutama terkait peningkatan jumlah karya ilmiah. Tetapi, publikasi ilmiah di jurnal ilmiah tidak harus dikaitkan dengan kelulusan mahasiswa,” kata Edy Suandi Hamid, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi). Sikap Aptisi itu diputuskan dalam Rapat Pengurus Pusat Pleno di Padang, Sabtu (11/2).

Edy, yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, mengatakan, memang saat ini jumlah karya ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi masih sangat terbatas. Namun, peningkatan publikasi ilmiah di Indonesia tidak mesti harus mengaitkan dengan kelulusan.

Akan tetapi, lanjutnya, dorongan tersebut harus menjadi kesadaran setiap perguruan tinggi. Setidaknya, perguruan tinggi mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan sikap inovatif.

Sesuai dengan surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), syarat kelulusan mahasiswa S-1 setelah Agustus 2012 adalah ada publikasi karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Adapun S-2 publikasinya pada jurnal ilmiah nasional, sedangkan S-3 pada jurnal ilmiah internasional, baik yang tercetak maupun online.

Suyatno, Sekretaris Jenderal Aptisi, mengatakan, perkembangan mutu PTS saat ini masih belum merata. Apalagi dukungan pemerintah bagi PTS yang membutuhkan bantuan dana ataupun bentuk lainnya masih minim.

”Kebijakan pemerintah dalam anggaran pendidikan harus memperhatikan prinsip keadilan bagi PTN (perguruan tinggi negeri) dan PTS. Sebab, sampai saat ini masih sangat dirasakan kebijakan penganggaran pemerintah bias ke PTN,” kata Suyatno.

Harus dijalankan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan, kebijakan Dirjen Dikti yang mewajibkan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiah harus dijalankan. ”Perguruan tinggi enggak usah minder, pasti bisa. Apalagi untuk S-3, bisa menulis ke jurnal ilmiah internasional. Kecuali kampus yang melaksanakan program doktor tidak berorientasi keilmuan, tetapi bisnis semata, sulit untuk bisa menghasilkan karya ilmiah yang berkontribusi untuk pengembangan keilmuan,” ujarnya.

Nuh meyakini masyarakat Indonesia masih dalam fase perlu ”pemaksaan”. Kewajiban publikasi ilmiah di jurnal ilmiah sekaligus syarat kelulusan mahasiswa merupakan upaya ”pemaksaan” untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

”Kalau mengharapkan kesadaran, ya, kita susah maju. Nanti terjebak dengan kebijakan fleksibel, ada syukur, enggak ada tidak apa-apa. Karena itu, kebijakan perlu dipaksakan untuk tujuan yang baik bagi munculnya budaya berpikir ilmiah sehingga kualitas pendidikan tinggi Indonesia meningkat,” ujar Nuh.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Sebelum Bentrok Polisi Sudah Memperingatkan
19/04/2010 | Indra Febria Widy
article thumbnail

  Kepolisian Daerah Metro Jaya mengaku sudah memberikan informasi intelijen pada Pemerintah Kota Jakarta Utara untuk menunda mendatangi makam mbah Priok. Peristiw [ ... ]


Akhir dari kekisruah pengurus PSSI
16/03/2011 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Presiden FIFA, Joseph “Sepp” Blatter, memberikan pernyataan seputar situasi sepak bola Indonesia pada saat konferensi pers di Gedung Parlemen Timor Leste, Selasa pagi (15/3/2011). Salah satu y [ ... ]