Selasa, Desember 12, 2017
Text Size

Search

Update Berita

SSL to secure from hacker attacks

Open-source software developer Kai Engert has proposed an overhaul to the Internet's SSL...

Cara Menghemat Bandwidth Internet, mempercepat browsing

Ada situasi ketika menggunakan internet kita harus benar-benar hemat dengan penggunaan bandwidth ...

Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

Juru Bicara Presiden Joko Widodo, Johan Budi Sapto Pribowo menegaskan, Presiden Jokowi sangat...

Twitter Bakal Sediakan Layanan Berbayar?

KOMPAS.com - Setelah selama ini hanya meyediakan layanan gratis yang didukung iklan, Twitter...

Megawati: Ahok, Sudahlah Jangan Cerewet

.   Kompas.com - Megawati menasihati Ahok agar tidak terlalu banyak bicara. Mengingat kondi...

Butuh kеrjа? Cоbа cеk di Jооblе

Butuh kеrjа? Cоbа cеk di Jооblе.       Pаdа zаmаn yаng sаngаt k...

  • Tips mengatasi bosen dalam pekerjaan

    Kamis, 01 November 2012 07:48
  • Grunt Mars probe stranded in Earth orbit

    Kamis, 10 November 2011 09:40
  • SSL to secure from hacker attacks

    Senin, 27 Februari 2012 21:09
  • Cara Menghemat Bandwidth Internet, mempercepat browsing

    Minggu, 23 September 2012 18:03
  • Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

    Kamis, 30 Maret 2017 19:45
  • Twitter Bakal Sediakan Layanan Berbayar?

    Kamis, 30 Maret 2017 19:49
  • Megawati: Ahok, Sudahlah Jangan Cerewet

    Kamis, 30 Maret 2017 19:54
  • Butuh kеrjа? Cоbа cеk di Jооblе

    Kamis, 30 Maret 2017 20:09
Konsep Subnetting IP Address Untuk Effisiensi Internet
SocialTwist Tell-a-Friend

Konsep Subnetting IP Address Untuk Effisiensi Internet

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 


Jumlah IP Address sangat terbatas, apalagi jika harus memberikan alamat semua host di Internet. Oleh karena itu, perlu dilakukan efisiensi dalam penggunaan IP Address supaya dapat mengalamati semaksimal mungkin host yang ada dalam satu jaringan. Konsep subnetting dari IP Address merupakan teknik yang umum digunakan di Internet untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address. Routing & konsekuensi logis lainnya akan terjadi dengan lebih effisien dengan metoda subnetting yang baik. Tulisan ini akan menyorot secara seksama konsep / cara melakukan subnetting pada IP Address.

Pendahuluan

Untuk beberapa alasan yang menyangkut efisiensi IP Address, mengatasi masalah topologi network dan organisasi, network administrator biasanya melakukan subnetting. Esensi dari subnetting adalah “memindahkan” garis pemisah antara bagian network dan bagian host dari suatu IP Address. Beberapa bit dari bagian host dialokasikan menjadi bit tambahan pada bagian network. Address satu network menurut struktur baku dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini menciptakan sejumlah network tambahan dengan mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.

Tujuan lain dari subnetting yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengurangi tingkat congesti dalam suatu network. Perhatikan bahwa pengertian satu network secara logika adalah host-host yang tersambung pada suatu jaringan fisik. Misalkan pada suatu LAN dengan topologi bus, maka anggota suatu network secara logika haruslah host yang tersambung pada bus tersebut. Jika menggunakan hub untuk topologi star, maka keseluruhan network adalah semua host yang terhubung dalam hub yang sama. Bayangkan jika network kelas B hanya dijadikan satu network secara logika, maka seluruh host yang jumlahnya dapat mencapai puluhan ribu itu akan “berbicara” pada media yang sama. Jika kita perhatikan ilustrasi pada Gambar 1, hal ini sama dengan ratusan orang berada pada suatu ruangan. Jika ada banyak orang yang berbicara pada saat bersamaan, maka pendengaran kita terhadap seorang pembicara akan terganggu oleh pembicara lainnya. Akibatnya, kita bisa salah menangkap isi pembicaraan, atau bahkan sama sekali tidak bisa mendengarnya. Artinya tingkat kongesti dalam jaringan yang besar akan sangat tinggi, karena probabilitas “tabrakan” pembicaraan bertambah tinggi jika jumlah yang berbicara bertambah banyak.

Untuk menghindari terjadinya kongesti akibat terlalu banyak host dalam suatu physical network, dilakukan segmentasi jaringan. Misalkan suatu perusahaan yang terdiri dari 4 departemen ingin memiliki LAN yang dapat mengintegrasikan seluruh departemen. Masing-masing departemen memiliki Server sendiri-sendiri (bisa berupa Novell Server, Windows NT atau UNIX). Cara yang sederhana adalah membuat topologi network perusahaan tersebut ditampilkan pada Gambar 2. Kita membuat 5 buah physical network (sekaligus logical network), yakni 4 buah pada masing-masing departemen, dan satu buah lagi sebagai jaringan backbone antar departemen. Dengan kata lain, kita membuat beberapa subnetwork (melakukan subnetting). Keseluruhan komputer tetap dapat saling berhubungan karena Server juga berfungsi sebagai router. Pada server terdapat dua network interface, masing-masing tersambung ke jaringan backbone dan jaringan departemennya sendiri

Subnetting juga dilakukan untuk mengatasi perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan dalam suatu network. Router IP dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda hanya jika setiap network memiliki address network yang unik. Selain itu, dengan subnetting, seorang network administrator dapat mendelegasikan alokasi IP address untuk host di seluruh departemen dari suatu perusahaan besar kepada setiap departemen, untuk memudahkannya dalam mengatur keseluruhan network. Setelah membuat subnet secara fisik, kita juga harus membuat subnet logic. Masing-masing subnet fisik setiap departemen harus mendapat subnet logic yang berbeda, berupa network address yang merupakan bagian (sub) dari network address perusahaan.
Suatu subnet didefinisikan dengan mengimplementasikan masking bit (subnet mask) kepada IP Address. Struktur subnet mask sama dengan struktur IP Address, yakni terdiri dari 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Bentuk subnet mask adalah urutan bit 1, diikuti bit 0. Jumlah bit 1 menentukan tingkat subnet mask. Tabel berikut memberikan beberapa contoh harga subnet mask



No    Subnet Mask (Biner)    Desimal    Hexa    Tingkat      
1    11111111.11111111.00000000.00000000    255.255.0.0    FF.FF.00.00    16 bit      
2    11111111.11111111.11111111.00000000    255.255.255.0    FF.FF.FF.00    24 bit      
3    11111111.11111111.11111111.10000000    255.255.255.128    FF.FF.FF.80    25 bit      
4    11111111.11111111.11111111.11000000    255.255.255.192    FF.FF.FF.C0    26 bit      
5    11111111.11111111.11111111.11100000    255.255.255.224    FF.FF.FF.E0    27 bit     

Bit 1 pada subnet mask berarti mengaktifkan masking (on), sedangkan bit 0 tidak aktif (off). Bit-bit dari IP Address yang “ditutupi” oleh bit-bit subnet mask yang aktif dan bersesuaian akan diinterpretasikan sebagai bit network. Sebagai contoh kita ambil satu IP Address kelas A dengan nomor 44.132.1.20. Dengan aturan standard, nomor network IP Address ini adalah 44 dan nomor host adalah 132.1.20. Network addressnya adalah 44.0.0.0 dan broadcast addressnya 44.255.255.255. Network tersebut dapat menampung maksimum lebih dari 16 juta host yang terhubung langsung. Misalkan pada address ini akan dikenakan  subnet mask sebanyak 16 bit (desimal = 255.255.0.0, hexa = FF.FF.00.00 atau biner = 11111111.11111111.00000000.00000000). Perhatikan bahwa pada 16 bit pertama dari subnet mask tersebut berharga 1, sedangkan 16 bit berikutnya 0. Dengan demikian, 16 bit pertama dari suatu IP Address yang dikenakan subnet mask tersebut akan dianggap sebagai bit network. Nomor network akan berubah menjadi 44.132 dan nomor host menjadi 1.20. Kapasitas maksimum host yang langsung terhubung pada network menjadi sekitar 65 ribu host.

Subnetmask di atas identik dengan standard IP Address kelas B. Dengan menerapkan subnet mask tersebut pada satu network  kelas A, dapat dibuat 256 subnetwork baru (44.1.xxx.xxx, 44.2.xxx.xxx, 44.3.xxx.xxx dst. sampai 44.255.xxx.xxx) dengan kapasitas masing-masing subnet setara dengan satu network kelas B. Network address dan broadcast address untuk setiap network berubah, karena komposisi bit-bit host dan bit-bit network juga berubah. Penerapan subnet yang lebih jauh, misalnya 24 bit (255.255.255.0 atau FF.FF.FF.00) pada kelas A akan menghasilkan 2562 network (lebih dari 65 ribu network) setara kelas C dengan kapasitas masing-masing subnet sebesar 256 host. Network kelas A, B atau C juga dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa subnet dengan menerapkan subnet mask yang lebih tinggi seperti 25 bit, 26 bit atau 27 bit dst. Jangan lupa bahwa setiap melakukan subnetting, maka network address dan broadcast address akan berubah.

Sebagai penutup, kita akan membahas contoh kasus (sebenarnya merupakan “true story”) dari alokasi IP Address untuk penerapan di LAN. NIC telah mendelegasikan pemakaian satu network kelas B dengan nomor 167.205.xxx.xxx untuk untuk dipakai di ITB, dibawah koordinator Onno W Purbo. Langkah selanjutnya, IP Address tersebut di distribusikan kepada pihak-pihak yang ingin bergabung ke Internet melalui gateway Internet di ITB. Untuk jurusan maupun instansi yang mempunyai beberapa LAN, diberikan satu subnet setara kelas C. Jadi, contoh alokasinya sebagai berikut :

167.205.0.xxx        Reserved
167.205.1.xxx        Jurusan A
167.205.2.xxx        Jurusan B, dst.

Misalnya, jurusan Teknik Elektro ITB mendapat alokasi subnet 167.205.7.xxx. (256 buah nomor IP Address). Dengan pendelegasian ini, maka IP Address 167.205.7.xxx tidak bisa dipakai lagi oleh instansi manapun, selain di lingkungan Jurusan Elektro. Penggunaan IP Address 167.205.7.xxx ini pun dikoordinasi oleh seorang kordinator lokal. Dengan demikian, koordinator utama tidak lagi ikut mengatur pemakaian subnet ini. Selanjutnya, koordinator IP Address di jurusan Elektro membuat subnet lagi yang lebih kecil, karena terdapat beberapa Laboratorium yang memiliki LAN di lingkungan Jurusan. Pertimbangan pembagian ini adalah berapa jumlah LAN yang ada dan berapa jumlah komputer pada setiap LAN serta prediksi jumlah tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Setelah didapat data mengenai jumlah komputer, konfigurasi subnetmask yang sesuai dapat segera dicari. Untuk subnet 167.205.7.xxx, kita memiliki 24 bit network yang sudah tetap dan 8 bit host (pada segmen terakhir) sebagai variabel. Sekarang mari kita pandang segmen terakhir ini sebagai bilangan biner, sehingga penulisannya menjadi 167.205.7.hhhhhhhh (h=bit untuk host). Untuk membuat subnet yang lebih kecil dari
subnet 167.205.7.hhhhhhhh ini, beberapa bit pertama dari 8 bit host ini harus diambil sebagai bit network, sisanya tetap sebagai bit host. Beberapa alternatif untuk menentukan tingkat subnetting yang akan digunakan adalah :


No    Komposisi    Tinjauan 8 bit terakhir    Tinjauan keseluruhan 32 bit      
1    hhhhhhhh    seluruh bit tetap menjadi bit host (bit network=0, bit host=8). Kita hanya memiliki 1 buah (20) subnetwork yang berkapasitas 256 host (28).     Bit network = 24 dan bit host = 8. Tingkat masking adalah 24 bit (netmask 255.255.255.0)      
2    nhhhhhhh    bit network=1, bit host=7. Kita memiliki 2 buah (21) subnetwork yang berkapasitas 128 host (27)    Bit network = 25 dan bit host = 7. Tingkat masking adalah 25 bit (netmask 255.255.255.128)      
3    nnhhhhhh    bit network=2, bit host=6. Kita memiliki 4 buah (22) subnetwork yang berkapasitas 64 host (26)    Bit network = 26 dan bit host = 6. Tingkat masking adalah 26 bit (netmask 255.255.255.192)      
4    nnnhhhhh    bit network=3, bit host=5. Kita memiliki 8 buah (23) subnetwork yang berkapasitas 32 host (25)    Bit network = 27 dan bit host = 5. Tingkat masking adalah 27 bit (netmask 255.255.255.224)      
5    nnnnhhhh    bit network=4, bit host=4. Kita memiliki 16 buah (24) subnetwork yang berkapasitas 16 host (24)    Bit network = 28 dan bit host = 4. Tingkat masking adalah 28 bit (netmask 255.255.255.240)     
Tabel 2. Beberapa Alternatif Tingkatan Subnetting
Diperkirakan, jumlah komputer maksimum yang tersambung di dalam setiap LAN tidak akan melebihi 30 buah. Oleh karena itu, pemilihan subnetmask yang tepat untuk ini adalah 27 bit (255.255.255.224 atau FF.FF.FF.E0), yang berarti jumlah bit host adalah 5. Maka, subnet 167.205.7.xxx tadi dipecah menjadi 8 buah subnet baru yang lebih kecil. Setiap subnet baru terdiri dari 32 IP Address. Namun demikian, yang dapat dipakai oleh host pada subnet tersebut adalah 30 buah. Ingat bahwa address paling awal dalam setiap subnet (seluruh bit host bernilai 0) diambil sebagai network address dan address paling akhir (seluruh bit host bernilai 1)


Subnet    Struktur IP Address    Network Address    Broadcast Address      
Subnet 1    (167.205.7).000hhhhh    167.205.7.0    167.205.7.31      
Subnet 2    (167.205.7).001hhhhh    167.205.7.32    167.205.7.63      
Subnet 3    (167.205.7).010hhhhh    167.205.7.64    167.205.7.95      
Subnet 4    (167.205.7).011hhhhh    167.205.7.96    167.205.7.127      
Subnet 5    (167.205.7).100hhhhh    167.205.7.128    167.205.7.159      
Subnet 6    (167.205.7).101hhhhh    167.205.7.160    167.205.7.191      
Subnet 7    (167.205.7).110hhhhh    167.205.7.192    167.205.7.223      
Subnet 8    (167.205.7).111hhhhh    167.205.7.224    167.205.7.255     
Tabel 3. Pembagian Net 167.205.7.xxx menjadi 8 buah Subnet
Setelah mendapatkan angka-angka di atas, pendelegasian IP address dapat dilakukan. Contoh pembagiannya adalah sebagai berikut :

subnet 1 (167.205.7.0) untuk LAN pada Tata Usaha
subnet 2 (167.205.7.32) untuk LAN pada Laboratorium B
subnet 3 (167.205.7.64) untuk LAN pada Laboratorium C, dst.

Jika jumlah 30 host dalam satu subnet juga masih terlalu besar, kita dapat menggunakan masking 28 bit, yang berkapasitas 16 buah IP Address dalam setiap subnet (jumlah host maksimum 14 buah). Hal ini dilakukan untuk efisiensi IP Address, terutama jika jumlah yang kita miliki sangat terbatas. Perhatikan bahwa jika kita hanya memiliki 10 buah komputer pada LAN yang berkapasitas 30 host (penerapan masking 27 bit), maka 20 IP address lainnya yang belum/tidak terpakai tidak dapat dipakai pada LAN lain, karena akan mengacaukan jalannya routing.

Penutup.

Pemberian subnet ini dilakukan pada saat meng-konfigurasi interface yang menghubungkan router / host ke jaringan. Perintah yang digunakan akan beragam sekali tergantung pada jenis komputer / sistem operasi / router yang digunakan.
Jika subnet telah di set dengan baik, selanjutnya kita tinggal menjalankan protokol routing yang ada di TCP/IP untuk dapat menjalankan jaringan dengan routing yang otomatis. Beberapa routing protokol terdapat di jaringan TCP/IP seperti RIP (Routing Information Protocol) pada pada suatu autonomous system.
Jika IP Address untuk seluruh LAN yang terintegrasi telah di desain dengan benar dan routing protocol dijalakan dengan baik maka yang akan terjadi adalah dynamic routing dimana jaringan dapat secara otomatis mengkonfigurasi routing & topologinya sendiri secara otomatis. Artinya jika ada jaringan / host baru yang masuk ke dalam jaringan kita; secara otomatis jaringan akan dapat mengidentifikasi & melakukan routing ke host / network tersebut. Konsep-konsep routing secara otomatis baru dapat jalan dengan lancar jika kita memahami secara betul-betul konsep subnetting.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Wimax vs HSPA Di Indonesia
04/04/2010 | Indra Febria Widy
article thumbnail

  Pihak GSM Association (GSMA) telah menjelaskan mengenai fakta terkini pasar Mobile Broadband di Indonesia, menggarisbawahi teknologi yang mendominasi pasar serta potensi pertumbuhannya yang sa [ ... ]


Salah masuk toilet seorang polisi di penjara
07/06/2011 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Alois Mabhunu, seorang polisi di Zimbabwe, ditahan di penjara khusus polisi hanya gara-gara kebelet buang air. Pasalnya, dia menuntaskan hajatnya itu di toilet yang diperuntukkan bagi Presiden Zimba [ ... ]