Jumat, November 24, 2017
Text Size

Search

Info Indonesia Provinsi Sumatera Utara
SocialTwist Tell-a-Friend

Provinsi Sumatera Utara

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

 

Sumatera Utara juga dikenal sebagai provinsi multikultural, di dalamnya terdapat etnis dan agama. Selain Batak dan Melayu yang menjadi penduduk asli provinsi ini, ada banyak kelompok etnis lainnya juga yang juga hidup berdampingan. Setidaknya ada 13 suku berkembang di provinsi ini 13 bahasa daerah. Dari semua suku yang ada, sembilan diantaranya adalah suku asli dan empat suku pendatang. Keragaman suku-suku ini belum termasuk Jawa, Cina, dan India yang juga hidup berdampingan bersama mereka.
Keberagaman suku tentu diikuti pula oleh mosaik adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Keragaman adat istiadat di Sumatera Utara diwarnai oleh adat Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Nias, Pesisir, Angkola, Pakpak, dan Simalungun. Perkembangan sosial budaya relatif baik mengingat tingkat kesadaran dan kedewasaan masyarakatnya dalam memahami pluralisme, keragaman budaya, mosaik adat istiadat serta kerukunan antar umat beragama cukup tinggi. Peta Provinsi Sumatera UtaraProvinsi Sumatera Utara memiliki keunikan tersendiri dalam kerangka perekonomian nasional. Provinsi ini adalah daerah agraris yang menjadi pusat pengembangan perkebunan dan hortikultura di satu sisi, sekaligus merupakan salah satu pusat perkembangan industri dan pintu gerbang pariwisata di Indonesia di sisi lain. Ini terjadi karena potensi sumber daya alam dan karakteristik ekosistem yang memang sangat kondusif bagi pembangunan ekonomi daerah dan nasional.

Kini tersedia potensi pertanian yang cukup melimpah. Sebagian besar produksinya, sayur-mayur dan jeruk malah telah dipasarkan ke provinsi lain bahkan ke luar negeri. Karena itu, tidak mengherankan jika sektor ini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Luas areal pertanian meliputi lahan sawah irigasi teknis seluas 135.872 ha, sawah non irigasi teknis seluas 141.383 ha, dengan saluran irigasi primer, sekunder dan tersier sepanjang 820.462 meter. Pada 2005, sawah-sawah ini menghasilkan 3.447.784 ton padi, sedangkan di tahun 2006 hanya memproduksi 3.030.784 ton padi.

Bukan hanya padi yang dihasilkan, tetapi juga 1.298.230 ton palawija, hortikultura dan sayur-sayuran. Beberapa jenis tanaman yang dikembangkan antara lain 218.375 ha lahan jagung dengan hasil produksi 739.067 ton; 13.142 ha tanaman kedelai dengan hasil produksi 15.295 ton; 155.436 ha lahan singkong dan umbi-umbian dengan hasil produksi 655.070 ton.

Pada 2004, luas hutan mangrove mencapai 103.372 ha dengan kondisi 60% baik. Hal ini sangat mempengaruhi perubahan ekosistem pantai dan kehidupan masyarakat nelayan. Kualitas air sungai yang di pantai hasilnya masih berfluktuasi terutama untuk parameter BOD, COD, TSS, Do dan PH. Fluktuasi kualitas air sungai ini terkait dengan ketaatan perusahaan terhadap baku mutu limbah cair dan besarnya beban limbah domestik yang dibuang langsung ke badan air. Sungai ini terkait dengan ketaatan perusahaan terhadap baku mutu limbah cair dan besarnya beban limbah domestik yang dibuang langsung ke badan air. Kualitas udara dengan indicator konsentrasi ambien polutan udara (Sox, Nox, debu, kebisingan) dan jumlah titik api (hotspot). Tahun 2004 jumlah titik api berkurang dari 219 titik api (2003) menjadi 164 titik api. Indikator ini menunjukkan kebakaran hutan masih relatif tinggi dan salah satu sumber polusi udara yang menyebabkan tingginya kadar debu di udara.

Di sektor perkebunan, menunjukkan progress menggembirakan. Pada 2005, misalnya, luas areal perkebunan 1.746.340 ha, lalu bertambah menjadi 1.788.943 ha pada 2006, terdiri atas 1.008.525 ha perkebunan rakyat, 363.106 ha perkebunan pemerintah, dan 365.992 ha perkebunan swasta dengan total hasil produksi 4.199.834 ton. Total produksi perkebunan pada 2006 mencapai 1.788.943 ton, meningkat dibandingkan total produksi 2005 sebesar 4.048.411 ton.

Komoditas unggulan sektor perkebunan antara lain karet. Dengan luas areal 479.174 ha, berhasil diproduksi 367.113 ton karet setiap tahunnya. Perkebunan sawit juga cukup luas, mencakup areal 908.080 ha dengan hasil produksi 13.830 ton. Luas perkebunan kelapa 125.969 ha dengan hasil produksi 99.529 ton. Perkebunan kopi mencapai 78.119 ha dengan hasil produksi 55.597 ton, sementara perkebunan kakao terhampar seluas 3.259 ha dengan hasil produksi 59.229 ton.

Meski potensi perikanan laut di pantai timur atau Selat Malaka hanya 239 ribu ton per tahun, Sumatera Utara memiliki potensi perikanan yang sangat besar di Pantai Barat atau Samudera Hindia yang mencapai 917.000 ton per tahun. Kendati demikian, produksi ikan secara keseluruhan masih relative kecil dibanding potensi yang ada, yakni 10,53% per tahun. Produksi perikanan tidak hanya dari laut, tapi juga dari produksi perairan rawa, danau dan sungai yang mencapai 11.669,90 ton dengan hasil produksi perikanan laut yang mencapai 330.579,60 ton, dengan jumlah kapal 22.457 unit. Untuk hasil perikanan budidaya dan perikanan tangkap untuk tahun 2006 sebesar 388.559 ton.

Di bidang kehutanan, Sumatera Utara juga menyediakan sumber daya alam yang melimpah. Pada 2005, total luas wilayah hutan mencapai 2.386.960 ha, terdiri atas 1.297.330 ha hutan lindung dan 1.035.690 ha hutan produksi terbatas. Dari seluruh potensi kehutanan yang ada, hutan yang dapat dikonversi mencapai 879.270 ha dan hutan bakau seluas 477.070 ha. Produksi kehutanan di luar kawasan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) sebanyak 112.459,79 meter kubik kayu bulat, 34.082,12 meter kubik kayu gergajian dan 187.128,74 meter kubi kayu olahan. Sedangkan hasil hutan  ikutannya terdiri atas 600 ton rotan dan 654,37 meter kubik Gondorukem.

Di sektor peternakan, komoditas utama yang dihasilkan adalah sapi, kambing, domba, babi, dan unggas. Jumlah populasi sapi potong pada 2006 mencapai 25.465 ekor dengan jumlah pemotongan per tahun sebanyak 53.207 ekor. Populasi sapi perah 6.521 ekor, memproduksi 4.561 ribu liter susu per tahun. Di sana juga tersedia 721.858 ekor kambing bersama 268.500 ekor domba, 809.705 ekor babi, 21.280.380 ekor ayam buras, 6.190.175 ekor ayam petelur dengan hasil produksi 123.95,36 ton telur per tahun, 51.219.491 ekor ayam pedaging dengan hasil produksi 44.687,58 ton daging ayam per bulan, serta 2.291.472 ekor itik dengan hasil produksi 10.919,80 butir telur per tahun. Total produksi peternakan tahun 2006 mencapai 216,05 ton, meningkat dibanding produksi 2005 yang hanya mencapai 213,25 ton.

Sumatera Utara juga memiliki kekayaan tambang. Survey 2006 mencatat bahwa terdapat 27 jenis barang tambang nonlogam (golongan C), 15 jenis barang tambang logam dan enam jenis minyak, gas (migas) dan energi. Barang tambang nonlogam antara lain batu gamping, dolomite, pasir kuarsa, belerang, kaolin, diatomea dan bentonit. Sedangkan barang tambang logam mencakup emas, perak, tembaga dan timah hitam. Sementara potensi migas dan energi antara lain minyak bumi, gas alam dan panas bumi. Saat ini telah dilakukan eksploitasi terhadap minyak bumi di Sumatera Utara, dengan hasil produksi pada 2006 mencapai 21.000 barel minyak bumi.

Data tahun 1998 menunjukkan bahwa jumlah hotel di seluruh daerah Sumatra Utara berjumlah 55 hotel, terdiri dari hotel bintang 1 berjumlah 19 unit, hotel bintang 2 berjumlah 20 unit, hotel bintang 3 berjumlah 8 unit dan hotel bintang 4 berjumlah 8 unit. Hotel bintang 4 hanya terdapat di Medan, Dairi, dan Asahan. Hotel bintang 3 terdapat di Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Asahan, dan Nias. Jumlah kamar hotel untuk hotel bintang 1 sekitar 929 kamar; bintang 2 berjumlah 1.157 kamar; hotel bintang 3 berjumlah 875 kamar; dan hotel bintang 4 berjumlah 1.293 kamar.

Daerah Sumatra Utara memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Masyarakatnya terdiri atas beberapa suku, seperti Melayu, Nias, Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan (meliputi Sipirok, Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing); serta penduduk pendatang seperti Minang, Jawa dan Aceh yang membawa budaya serta adat-istiadatnya sendiri-sendiri. Daerah ini memiliki potensi yang cukup baik dalam sektor pariwisata, baik wisata alam, budaya, maupun sejarah.

Wisatawan asing yang datang ke Bandara Polonia pada tahun 1998 berdasarkan negara asal adalah sebagai berikut: dari Asia berjumlah 47.776 orang, terdiri dari wisatawan Jepang 1.192 orang, Korsel 523 orang, Taiwan 2.251 orang, Thailand 552 orang, Singapura 6.049 orang, Malaysia 35.639 orang, dan India serta Pakistan 775 orang. Sedangkan wisatawan dari Australia 961 orang, New Zealand 199 orang, Amerika Serikat 1.492 orang, Kanada 505 orang, Inggris 1.865 orang, Belanda 3.621 orang, Jerman 1.469 orang, dan dari negara Eropa lainnya dalam jumlah lebih dari 2000 orang.

Sumatera Utara juga dikenal sebagai provinsi multikultural, di dalamnya terdapat etnis dan agama. Selain Batak dan Melayu yang menjadi penduduk asli provinsi ini, ada banyak kelompok etnis lainnya juga yang juga hidup berdampingan. Setidaknya ada 13 suku berkembang di provinsi ini 13 bahasa daerah. Dari semua suku yang ada, sembilan diantaranya adalah suku asli dan empat suku pendatang. Keragaman suku-suku ini belum termasuk Jawa, Cina, dan India yang juga hidup berdampingan bersama mereka.
Keberagaman suku tentu diikuti pula oleh mosaik adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Keragaman adat istiadat di Sumatera Utara diwarnai oleh adat Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Nias, Pesisir, Angkola, Pakpak, dan Simalungun. Perkembangan sosial budaya relatif baik mengingat tingkat kesadaran dan kedewasaan masyarakatnya dalam memahami pluralisme, keragaman budaya, mosaik adat istiadat serta kerukunan antar umat beragama cukup tinggi.

Provinsi Sumatera Utara terkenal dengan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosirnya. Menurut letak geografisnya provinsi ini terletak di sebelah barat Indonesia, wilayah provinsi ini sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sebelah timur dengan Malaysia di selat Malaka, sebelah selatan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat dan di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Wilayah provinsi ini seluas 71,680.68 km² yang secara administratif terdiri dari 18 Kabupaten dan 7 kota dengan jumlah penduduk sekitar 12.326.678 jiwa. Angka pertumbuhan penduduknya sebesar 1,37% dengan rata-rata kepadatan penduduk sekitar 172 per Km².

Pada tahun 2005, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini sebesar Rp. 87,89 triliun dengan kontribusi terbesar disumbang dari sektor pertanian sebesar 25,2%, atau sama dengan Rp. 22,19 trilyun, diikuti sektor industri pengolahan sebesar Rp. 21,30 triliun (24,2%) serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp. 15,98 triliun (18,2%).

Pada tahun yang sama, nilai ekspornya mencapai US$ 4,56 miliar, disumbang dari Minyak Lemak, Minyak Nabati dan Hewani sebesar US$ 1,76 juta, bahan baku senilai US$ 987 juta, barang hasil industri senilai US$ 623 juta, bahan makanan dan binatang hidup senilai US$ 606 juta. Tanaman Palawija juga menjadi salah satu andalan ekspor.

Terdapat 2 (dua) unggulan di provinsi ini untuk sektor pertanian yaitu sub sektor perkebunan dan perikanan. Untuk sub sektor perkebunan terdapat 5 (lima) komoditi unggulan, antara lain kakao, karet, kelapa sawit, kopi dan tebu. Sedangkan dari sub sektor perikanan Provinsi Sumatera Utara mempunyai unggulan untuk perikanan laut dan budidaya.

Sebagai pendukung kegiatan perekonomian, provinsi ini memiliki 4 (empat) kawasan industri yaitu Kawasan Industri Medan, Medan Star Industrial estate, Binjai dan Pulahan Seruai Industrial Estate dengan dukungn sarana perhubungan yang memadai berupa pelabuhan laut sebanyak 22 (dua puluh dua) pelabuhan dan 7 (tujuh) Bandar Udara baik nasional maupun perintis yaitu Bandara Sibisa, Binaka, Silangit, Pulau Batu, Aek Gondang, Pinang Sori, dan Bandara Polonia sebagai bandar udara utama. Perkembangan sarana perhubungan secara umum di Provinsi Sumatera Utara, ditampilkan sebagaimana pada gambar dibawah ini.

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Pasukan Amerika Serikat Kalah Telak di Afghanistan
12/09/2012 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Pasukan Amerika Serikat (AS) menghadapi kekalahan telak di Afghanistan dan warga negara adidaya itu tidak aman di mana pun mereka pergi di dunia, demikian klaim Taliban menjelang peringatan serangan [ ... ]


Google Sesalkan Produk Tiruan China
31/01/2010 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Negara China selama ini memang mahir soal meniru produk-produk global, yang kemudian dijual sebagai produk Aspal (Asli tapi Palsu). Baru-baru ini, negara tersebut juga menirukan mesin pencari Go [ ... ]