Jumat, November 24, 2017
Text Size

Search

Info Indonesia Provinsi Bangka Belitung
SocialTwist Tell-a-Friend

Provinsi Bangka Belitung

Penilaian Pengunjung: / 4
KurangTerbaik 

Peta Provinsi Bangka BelitungBukan hanya pertambangan saja yang bisa eksploitasi di  sana, tetapi juga sektor pertanian dan perikanan, hanya saja sektor pertanian belum maksimal, terlihat dari perbandingan besarnya luas lahan dan lahan yang telah digunakan untuk pertanian. Dari seluruh luas lahan yang ada, baru 25% yang digunakan untuk usaha pertanian.

Provinsi ini memiliki lahan sawah beririgasi teknis seluas 2.743 ha, sementara sawah yang teririgasi non teknis seluas 3.844 ha. Sawah-sawah inilah yang pada tahun 2006 menghasilkan 16.507 ton padi. Terdiri atas  9.073 ton padi sawah dan 7.434 ton padi ladang. Dibandingkan dua tahun terakhir, produktifitas padi yang dicapai menurun. Pada 2004, produksi padi mencapai 18.764 ton sementara pada2005 mencapai 19.027 ton. Di tahun 2005 ini pula berhasil dipanen 26.184 ton palawija, 4.968 hortikultura, dan 1.389 sayur-mayur.

Di kepulauan ini juga terdapat hutan seluas 657.510 ha. Sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 357/Menhut-II 2004, hutan ini terdiri atas 466.090 ha hutan produksi, 156.730 ha hutan lindung, dan 34.690 ha hutan konservasi. Kawasan-kawasan hutan tersebut tersebar dalam 60 kelompok register kawasan hutan, sedangkan pada zaman Belanda batas-batasnya telah ditata secara definitif.

Provinsi ini juga memiliki potensi perikanan laut yang cukup besar. Selain potensi perikanan tangkap potensi perikanan budidaya, baik budidaya ikan air payau maupun ikan air tawar, layak dikembangkan. Per tahun, potensi kelautan dan perikanan provinsi ini mencapai 499.500 ton perikanan tangkap dengan nilai Rp2.497.500.000,- dan 1.316.000 ton perikanan budidaya dengan nilai Rp245.160.000.000,-.

Perkebunan memiliki arti strategis untuk menunjang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Komoditas unggulan perkebunan rakyat yang telah di tekuni berabad-abad secara turun-temurun adalah lada dan karet. Sedangkan kelapa sawit merupakan komoditas baru dan banyak diusahakan oleh perusahaan besar swasta. Bangka Belitung merupakan daerah penghasil dan pengekspor lada putih yang sejak dulu terkenal dengan nama muntok white pepper.

Dari semuanya, bijih timah adalah sumberdaya alam yang paling bernilai di provinsi ini, bahkan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan nasional. Di sini terdapat satu BUMN yang menambang bijih timah, PT Timah Tbk, dan satu perusahaan asing, PT Koba Tin. Luas area Kuasa Pertambangan (KP) PT Timah Tbk di darat sekitar 360.000 ha atau ± 35% dari luas daratan Pulau Bangka. BUMN ini juga memiliki areal KP darat di Pulau Belitung seluas 126.455 ha atau ± 30% dari luas daratan Pulau Belitung. Untuk PT Koba Tin, diberikan sekitar 41.000 ha. Di luar area kuasa pertambangan PT Timah Tbk dan kontrak karya (KK) PT Koba Tin, kegiatan penambangan juga diusahakan oleh pengusaha tambang inkonvensional dan masyarakat secara tradisional yang juga memberikan nilai ekonomi masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.

Secara total, produksi bijih timah pada 2005 mencapai 42.615,22 ton Sn dan logam timah 41.789 metric Sn. Darat di Pulau Belitung seluas 126,445 ha atau 30% dan luas daratan Pulau Belitung. Untuk PT Koba Tin, diberikan sekitar 41.000 ha, Di luar area kuasa pertambangan PT Timah Tbk dan kontrak karya (KK) PT Koba Tin, kegiatan penambangan juga diusahakan oleh pengusaha tambang inkonvensional dan masyarakat secara tradisional yang juga memberikan nilai ekonomi masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.

 

Provinsi Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan, wisata bahari dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan pendapatan daerah, disamping objek wisata sejarah dan acara adat khas Bangka Belitung. Oleh karena itu usaha jasa akomodasi/perhotelan perlu terus dikembangkan.

Pada tahun 2005, di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 61 hotel/losmen dengan 1.054 kamar tidur dan 1.630 tempat tidur.  Dari 74.343 kunjungan wisatawan di Kepulauan Bangka Belitung, 99,43 persen adalah wisatawan domestik dan 0,57 persen wisatawan mancanegara.

Dibandingkan dengan tahun 2004,  jumlah ini terlihat mengalami peningkatan hingga 2,62 persen.

 

Meski banyak suku yang menetap di Kepulauan Bangka Belitung. Melayu, Bugis, Jawa, Batak, Buton, Sunda, Madura, Flores, Bali, dan Keturunan Tionghoa (Cina) bahasa paling dominan yang mereka gunakan adalah Melayu yang juga merupakan bahasa daerah setempat, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jawa menempati urutan berikutnya.

Di bidang kebudayaan, adat – istiadat masyarakat setempat tentu saja menjadi dominan diselenggarakan, bahkan untuk ukuran tertentu bisa di eksploitasi menjadi daya tarik pariwisata tersendiri. Beberapa adat – istiadat yang kerap dilakukan masyarakat misalnya:

 

  1. Sepintu Sedulang; ritual yang lebih dikenal dengan sebutan Nganggung, di mana masyarakat dulang berisi makanan untuk dimakan siapa saja yang hadir di masjid;
  2. Rebo Kasan; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar mereka terhindar dari bencana sebelum ke laut mencari ikan;
  3. Buang Joang; upacara tolak bala untuk keamanan desa, mirip upacara Rebo Kesan;
  4. Ceriak Nerang; upacara yang dilakukan setelah panen padi sebagai puji syukur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa;
  5. Perang Ketupat; upacara yang diadakan setiap bulan Sya’ban menyambut Ramadhan;
  6. Mandi Belimau; dilaksanakan seminggu sebelum awal Ramadhan di pinggir Sungai Limbung;
  7. Lesong Panjang; upacara yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen;
  8. Adat Sijuk; upacara khusus pada hari besar agama;
  9. Tari Sambut; tarian khas di Bangka Belitung, dilakukan saat masyarakat menyambut tamu – tamu istimewa, dan
  10. Nirak Nanggok; upacara adat untuk menunjukan rasa syukur atas kebaikan, dilakukan di Desa Membalong, Belitung.

Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari 2 (dua) pulau besar yaitu pulau Bangka dan pulau Belitung serta beberapa pulau kecil dengan luas wilayah sebesar 81.725,74 km² yang meliputi daratan seluas 16.424,14 km² dan perairan seluas 65.301 km². Letak provinsi ini berdekatan dengan Provinsi Sumatera Selatan. Secara administrasi Kepulauan Bangka Belitung memiliki 1 kota, 6 kabupaten, 36 kecamatan dan 326 desa/kelurahan dengan Pangkal Pinang sebagai ibukota provinsi dan saat ini dihuni oleh 1.043.456 jiwa (Susenas 2005). Posisi provinsi ini memiliki keunggulan strategis karena tidak terlalu jauh dari jalur perdagangan Singapura - Johor - Riau serta kawasan Kepulauan Natuna.

Sampai dengan tahun 2005, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan harga konstan mencapai Rp. 8,23 triliun. Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar yaitu 24,2 % dari total PDRB dengan nilai sebesar Rp. 1,99 triliun, disusul dengan sektor industri pengolahan (23,5%) dengan nilai sebesar Rp. 1,94 triliun dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 18,5 % atau sama dengan Rp.1,52 triliun

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didukung 8 (delapan) kawasan industri yaitu Jelentik, Tanjung Pandan, Belinyu, Koba, Muntok, Manggar, Pangkal Pinang, dan Ketapang serta 10 (sepuluh) pelabuhan laut baik besar maupun kecil. Pelabuhan yang memiliki dermaga terpanjang adalah Tanjung Pandan dengan panjang 4.200 m, Toboali (2.240 m), Belinyu (1.515 m) dan Niaga Jelentik (1.500 m), di Kabupaten Bangka Barat terdapat pelabuhan penyeberangan Muntok dengan panjang dermaga 30 m. Untuk transportasi udara, tersedia 2 (dua) bandar udara utama yaitu Bandara Depati Amir di Pulau Bangka dan Bandara H.AS. Hanandjoeddin di Pulau Belitung.

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Para wanita Open Source Programing
11/03/2011 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Sejak lama dunia open source maupun programming identik dengan laki-laki. Seorang geek (kutu tekno) akan digambarkan sebagai laki-laki berwajah culun dengan kacamata tebal dan bertemankan laptop at [ ... ]


Konsep Subnetting IP Address Untuk Effisiensi Internet
08/03/2010 | Indra Febria Widy
article thumbnail


Jumlah IP Address sangat terbatas, apalagi jika harus memberikan alamat semua host di Internet. Oleh karena itu, perlu dilakukan efisiensi dalam penggunaan IP Address supaya dapat mengalamati semaksim [ ... ]